Saturday, December 23, 2006

Nyanyian si gelandang cilik


Disaat harus merangkul semua pundak...
Menadah tetes-tetes hujan...

Meresapi bau tanah yang tersiram, dan rerumputan yang bergoyang senang...


Maka sederetan gigi terpajang...
Mengatakan, "Kami senang...Hujan datang!"

Maka bergemuruh kilat dalam dada...

Yang berjingkat ria di sela nada hujan


Biar lusuh ini terbasuh...

Biar letih ini tersisih...

Hujan...
Hujan...

Kami bernyanyi riang


Tak peduli pada hidup yang membuat kami membusuk
Tak peduli pada perut yang berkukuruyuk
Kamu hanya ingin menari bersama hujan...
Bukan, bukan menari

Tapi menangis bersama hujan


Dan kaki kaki telanjang berjingkat
Kuncir-kuncir mungil menari riang...
Sederetan gigi terpajang...

Nyanyian Si gelandang cilik

[22.Dec.2006--08.00 pm--Hutan.Basah.Yang.Rindang.di.Universitas.Indonesia]

-Goddess-

2 comments:

Simulacra said...

Aku baru baca posting-an kamu yang ini..

Mmm...respon kamu terhadap realitas sosial.. intresting..

Goddess said...

:o ini postingan kan udah lama banget!
Hehehe, thanx dear friend.. ;)