Monday, November 06, 2006

Ternyata...


Manusia itu cepat berubah ya...

Hari Senin terlihat menyenangkan

Hari Selasa bisa jadi orang yang sangat menyebalkan




Manusia itu nggak konsisten

Dulu teriak-teriak anti-kemapanan

Sekarang rusuh minta makan




Manusia itu nggak bisa nyusun prioritas

Kemarin bilang kuliah yang utama

Setelah kerja udah ga peduli lagi sama pendidikannya




Manusia itu suka dusta

Mampu ngasih saran luar biasa bijak untuk sahabatnya

Tapi nggak tahu gimana cara nyelesain masalahnya sendiri




Manusia itu nggak tahu terima kasih

Waktu susah ia mencari-cari orang tuanya

Belum tentu udah senang masih suka nanyain kabar mereka




Manusia itu bermuka dua

Di depan suka memuji-muji temannya

Di belakang dengan puasnya ia mengejek dan menertawakannya




Manusia itu tidak setia

Dulu berikrar bahwa hanya ia yang dia cinta

Sekarang berucap tentang indahnya mendua




Manusia itu sebenarnya jelek

Menerima berjuta-juta pujian dari orang

Namun enggan memberi bahkan sedikit untuk si duava





Manusia itu belum tentu bertuhan

Membangga-banggakan dirinya berTuhan

Namun sampai mati ia meng-agungkan cinta




Manusia...Aku...Kamu...Mereka...Semuanya

*tercenung...merenung*




- Goddess -

15 comments:

Simulacra said...

Kalau begitu cara kamu melihat manusia, sepertinya aku mau berhenti jadi manusia aja deh..

Kekekekkeke...

Terlalu sinis kamu.. :)

Goddess said...

Emang ini aku nulisnya pas lagi emosional sama seseorang bro...Yah, daripada gw caci maki ngga jelas, manding nulis. One of the painkillers i have :)

Simulacra said...

Terkadang saat-saat yang tidak mengenakkan bagi 'diri' adalah stimulan yang baik bagi terciptanya suatu kreatifitas maupun aksi penghancuran...

Bahkan, seringnya kedua tindakan tersebut sulit dibedakan..

Seperti yang terjadi pada Hitler ketika Jerman mengalami tekanan pasca PD I. Keadaan ekonomi Jerman saat itu menjadi stimulan bagi-nya untuk menggagas sebuah konsep tentang kebangkitan Jerman, dengan cara melakukan penguasaan daratan eropa..
Terjadilah Perang Dunia II....

T-T

Goddess said...

*ngerjap2in mata*

Wah..pengetahuanmu hebat..Aku aja ngga tau ;p

Simulacra said...

Kamu ngeledek ya?

Goddess said...

Eh serius...sapa yang ngeledek?

Kalau ada orang yang aku kagumin dan bisa aku ajak ngobrol banyak..itu adalah orang yg pengetahuannya luas, cerdas, enak diajak ngobrol & humoris.

Seharusnya seneng lho pengetahuanmu termasuk luas :)

simulacra said...

Mmm...

Pengetahuan/Kekuasaan my dear, yang dapat diterjemahkan begini:

Pengetahuan adalah Kekuasaan

atau

Kekuasaan adalah Pengetahuan

Bagaimana pengetahuan bisa berubah wujud menjadi kekuasaan?

Prosesnya disebut ideologisasi, yaitu dengan cara pembentukan opini atau menggunakan kekerasan sehingga tercipta kesepakatan bersama bahwa suatu pengetahuan atau sekumpulan pengetahuan adalah berisikan kebenaran yang hakiki..

Beberapa saat setelah itu pengetahuan tersebut mempunyai kekuatan untuk memaksa..

Seperti yang terjadi pada Pancasila ketika Orde Baru, kamu ingatkan?

Jadi..
Menurut kamu, lebih baik tahu atau tidak tahu atau tempe? :P

Goddess said...

Tetep...Lebih baik kamu tahu

Masalah apakah kebenaran dalam sebuah pengetahuan itu menjadi alat pemaksaan atau pembentukan opini secara paksa itu tergantung individu masing-masing. Knowing still better that not-knowing (subjective opinion of mine) ;p

Simulacra said...

Mmm...

Kalau begitu pertanyaannya mungkin begini:

Bagaimana caranya supaya pengetahuan itu dapat dibersihkan dari unsur kekuasan?

Biarkanlah pengetahuan itu selalu dapat dimiliki dan dimanfaatkan oleh siapa saja... Netralisasi mungkin?

Kamu punya jawabannya?

Goddess said...

Seandainya pengetahuan&pendidikan itu gratis bang..

Sayangnya makin kesini pendidikan justru semakin menjadi "barang eksklusif"

Yah..Negara payah gini..Mo ngarep apa?

Simulacra said...

Susah juga kalau gratis Non.., pemerintah mungkin tidak punya kemampuan membiayai dan juga dapat membuat rakyatnya menjadi manja...

Namun untuk masalah "barang eksklusif", aku rasa hal ini memang disengaja, sehingga hanya kelas menengah saja yang dapat mengakses pendidikan.

Sedangkan kelas bawah dengan ketidak mampuannya mengakses akan terus berada dalam zaman kegelapan...

Untuk masalah negara payah, muncul satu pertanyaan, siapakah negara itu?, atau apa kah negara itu?

Seringnya orang menggunakan istilah negara untuk mengacu pada institusi eksekutif dan birokrasi..

Kalau menurut aku, hal ini berakibat fatal, yaitu rakyat yang merupakan bagian terbesar dalam suatu negara seolah-olah bukan bagian yang menentukan dalam kelangsungan negara tersebut..

Sehingga banyak yang hanya menunggu perubahan yang dilakukan oleh pemerintah tanpa mengusahakan sendiri perubahan tersebut, singkatnya menunggu dalam kePASRAHan!

Menurut kamu?

Goddess said...

Lho..kalo menurutku "kepasrahan" rakyat yang mengisi sebagian besar kepulauan Indonesia ini justru karena efek jangka panjang dari "brainwashed"nya pemerintah Orde Baru yg "dari luar" memanjakan rakyatnya..Padahal mereka sebenarnya sedang mencuci otak rakyat bahwa pemerintah yang menjalani negara, bekerja dan sebagainya (padahal dalemnya mereka ngumpulin harta sebanyak2nya,,,ninggalin borok negara segitu besarnya ke rakyat)..Sedangkan rakyat diminta diam, menunggu dalam pasrah, tinggal nyodorin tangan minta hasil..

Sekarang liat deh...
Banyak sih yang treak2 soal perubahan, revolusi, tapi apa?Buntut2nya juga mereka minta "tindak cepat pemerintah", "perbaikan parlemen", "turunkan ini..ganti si itu", "presiden ini ga becus..ganti aja sama yang ini"

Jatuhnya mereka cuma menuntut..itu smua karena mereka udah biasa "diservis" sama pemerintah Orde Baru..

Jadi...harus nyalahin sapa? Pemerintah Orde Baru atau rakyat?
Atau salah dua-duanya?

Simulacra said...

Kamu terpancing emosi ya? :)

Apakah adil dengan menumpahkan semua kesalahan pada sesuatu yang namanya Orde Baru?

Goddess said...

:D Aduh maap maap...Lagi PMS sih,hehehe...Ditambah masalah2 bertubi2 dateng ke aku..Jadi hawanya emang cepet panas :p

Simulacra said...

:)