Friday, December 16, 2011

Sebenarnya bisu.


Tak kau tangkapkah bising nyaring mengerling di ujung daun telingamu
Saat terbiasa menyelam tenggelam dalam lautan hingar bingar sesumbar mu
Satu persatu mengerjap uap tersaring embun pagi lalu mengendap
Racauan itu terbuang sayang melenggang tak terhalang

Mengaduh bait-bait yang Ibu mu takkan ajarkan
Kerikil memang selalu menyebalkan, sayang...
Biarkan mereka menari serupa untaian layang-layang
Jangan kau paksa pendam
Mereka sudah diam

Raungan mu menggelegar di kesunyian
Waktu harus berkompromi saat kau terhilang akal
Semburat segala warna bergelinjangan di ujung indera mu
Sepenuh jiwa, sekosong raga

Entah beban macam apa yang mendadani bawah sadar mu
Begitu mencekamnya aku tidak bisa melukis mu
Kelakar itu akan lekang oleh waktu
Naiklah dari bawah sadarmu

Lawan kebisuan mu
Kelakar itu akan lekang oleh waktu

G.

Pic: Iwed

2 comments:

Radhiana said...

mba iwed, puisinya bagus..btw manggilnya mba apa teh ni yak...?

salam kenal dr solo :)

Goddess said...

Thanks Dhiana (bener ngga manggilnya? hehehe). Udah lama ga nulis puisi, kemarin tiba2 kepingin aja :p

Panggil Iwed aja say, pake "mbak" juga ngga apa2, ngga pake "mbak" juga nyantai ;)